Apabila ada yang berminat dengan RPP Karakter bangsa silahkan download di

http://www.ziddu.com/download/18828342/admin.rar.html


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya.Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak – kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal.

Perkembangan cara berfikir yang berlainan dari masa bayi sampai usia dewasa meliputi tindakan dari bayi, pra operasi, operasi kongkrit dan opersai formal. Proses dibentuknya setiap struktur yang lebih kompleks ini adalah asimilasi dan akomodasi, yang diatur oleh ekuilibrasi. Piaget juga memberikan proses pembentukan pengetahuan dari pandangan yang lain, ia menguraikan pengalaman fisik atau pengetahuan eksogen, yang merupakan abstraksi dari ciri – ciri dari obyek, pengalaman logis matematis atau pengetahuan endogen disusun melalui reorganisasi proses pemikiran anak didik . Sruktur tindakan, operasi kongkrit dan operasai formal dibangun dengan jalan logis – matematis. Sumbangan bagi praktek pendidikan untuk karya – karya Piaget mengenali pengetahuan yang disosialisasikan dari sudut pandangan anak. Implementasi kurikulum menjadi pelik oleh kenyataan bahwa teorinya tidak memasukan hubungan antara berfikir logis dan pelajaran – pelajaran pokok seperti membaca dan menulis.

1.2  Rumusan Makalah

                 Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

a. Pengertian Kognitif

b. Prinsip dasar teori Piaget

c. Aspek inteligensi

d. Teori Perkembangan Piaget

e. Implementasi teori perkembangan kognitif  dan konstruktivisme Piaget dalam pembelajaran

f. Kritik Terhadap Teori Piaget.

1.3  Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini, agar mahasiswa dapat mengetahui :

a. Pengertian Kognitif

b. Prinsip dasar teori Piaget

c. Aspek inteligensi

d. Teori Perkembangan Piaget

e. Implementasi teori perkembangan kognitif  dan kontruktivisme Piaget dalam pembelajaran

f. Kritik Terhadap Teori Piaget

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kognitif

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.

Akan tetapi apa arti kognitif yang sebenarnya? Lalu apa perkembangan kognitif itu?

Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi).

Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegasi proses-proses sendiri menjadi system – sistem yang koheren. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk memyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan sosial.

Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

2.2.  Prinsip Dasar Teori Piaget

Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis ( perkembangan jiwa). Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi.

Faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif, yaitu :

  1. Fisik

Interaksi antara individu dan dunia luat merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.

  1. 2.      Kematangan

Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.

  1. 3.      Pengaruh sosial

Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif

  1. 4.      Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi

Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.

2.3  Aspek Inteligensi.

Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :

1. Struktur Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur & organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller)

2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif :

  1. seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses.
  2. lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembanga struktural.

2. Isi Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa” ditentukan oleh kognitif atau intelektual.

3. Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi. Organisasi: cenderung untuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas.

Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara :

a).  organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.

b) organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

2.4 Teori Perkembangan Piaget

Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.

Tahap – tahap Perkembangan
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

  1. 1.         Periode sensorimotorik.

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial / persepsi penting dalam enam sub-tahapan :
a. Sub-tahapan skema refleks.

Muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer.

Dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan

munculnyakebiasaan-kebiasaan.
c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder.

     Muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan

koordinasiantarapenglihatandanpemaknaan.
d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder(Muncul dari usia Sembilan sampai

    duabelasbulan).

    Saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen.

e.Sub tahapan fase reaksi sirkulartersier.

Muncul dalam usia duabelas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan        penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.

f. Sub-tahapan awal representasi simbolik,

Berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2. Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

3. Tahapan operasional konkrit.

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan operasional konkrit adalah :

Pengurutan – kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi – kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering – anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility – anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi – memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme – kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

4. Tahapan operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Informasi umum mengenai tahapan-tahapan.

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
• Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur. Universal (tidak terkait budaya)
• Bisa digeneralisasi : representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri

seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
• Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara

logis
• Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen

dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
• Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model

berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif.

Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada :

Ø berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.

Ø Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar pembelajaran diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan kemampuan berpikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.

Ø Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks sosial  dan budaya , yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.

Ø Menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri.

Ø Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka.

Ø Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus –menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. PBI dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget ini.

Ø Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.

2.5 Implementasi Teori Perkembangan Kognitif dan Kontstruktivisme Piaget Dalam Pembelajaran, adalah :

A. Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran, adalah

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan

dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

  1. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

  1. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :

1.   Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.

2.   Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.

3.   Tidak menekankan pada praktek – praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.

  1.  Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.

B.Implmentasi Pendekatan Konstruktivisme Piaget dalam Pembelajaran.

1. Latar Belakang Pendekatan Konstruktivisme

Walaupun  sejak  lahir  mempunyai  potensi  kognitif,  manusia  tidak  dibekali dengan  pengetahuan  empiris  atau  aturan  metodologis  dalam  pikirannya.  Kita  tidak pernah  memperoleh  pengetahuan  yang  telah  jadi  atau  dalam  paket-paket  yang  dapat dipersepsi  secara  langsung.  Semua  pengetahuan,  metode  untuk  mengetahui,  dan berbagai  disiplin  ilmu  yang  ada  dalam  masyarakat  dibangun (constructed) oleh  pikiran manusia.  Paham  ini  selanjutnya  dikenal  dengan  konstruktivisme.  Phillips  dalam  Light dan  Cox  (2001)  melihat  bahwa  konstruktivisme  telah  menjadi  agama  sekular  bagi perkembangan teori dan penelitian di  bidang  pendidikan secara luas. Namun demikian teori-teori  yang  bernafaskan  konstruktivisme  itu  satu  sama  lain  bervariasi  secara signifikan.

Dimensi  horisontal  mendeskripsikan  adanya  perdebatan  klasik  tentang  realitas atau  pengetahuan,  antara  ‘ditemukan’  dengan  ‘diciptakan’. Pada  ujung  yang  satu pengetahuan bebas dari campur tangan manusia; alam berfungsi sebagai ‘instruktur’ dari manusia menemukan prinsip-prinsipnya. Pada ujung yang lain pengetahuan dan realitas diciptakan  oleh  manusia.  Dimensi  vertikal  menggambarkan  perdebatan  tentang  faktor pendukung  terjadinya  konstruksi  pengetahuan  itu,  antara  proses internal  (dalam individu  manusia)  atau  sosial  dan  kultural  (dalam  masyarakat).  Dimensi  ketiga memperhatikan  tingkat  keaktifan  proses  konstruksi  pengetahuan  itu,  antara  aktif  dan pasif.  Pada  ujung  yang  satu  manusia  (baik  individual  maupun  sosial)  mengkostruksi pengetahuan secara pasif, sebagai penonton; di ujung yang lain manusia mengkonstruksi secara  aktif  sebagai  aktor.  Kerangka  teoritis  yang  dibahas  dalam  tulisan  ini  kira-kira berada  di  tengah-tengah  sumbu  horisontal,  tetapi  agak  condong  ke  arah  kutub  ‘sosial’ dan ‘aktor’ dari kedua sumbu lainnya.

  1. 2.      Prosedur pembelajaran konstruktivisme

Driver  dalam  Fraser  and  Walberg  (1995)  telah  menciptakan  prosedur pembelajaran  berdasarkan  konstruktivisme,  memfasilitasi  pembelajar  membangun  sendiri konsep-konsep  baru  berdasarkan  konsep  lama yang  telah  dimiliki.  Pembangunan konsep  baru  itu  tidak  terjadi  di  ruang  hampa  melainkan  dalam  konteks sosial,  dimana mereka dapat berinteraksi dengan orang lain untuk merestrukturisasi ide-idenya.

Konsep  lama  yang  dimiliki  pembelajar  digali  pada  pembelajaran  pendahuluan, pada  saat  mereka mendapat orientasi  berupa peristiwa alam,  model,  atau simulasi  yang relevan  dengan  konsep  yang  akan  dipelajari.  Konsep  lama  itu  diperoleh  pembelajar  dari kehidupan  sehari-hari  selama  bertahun-tahun,  maupun  dari  pembelajaran  sebelumnya. Tidak  jarang  di  antara  konsep-konsep  itu  ada  yang  salah  (miskonsepsi),  yang  akan sangat  mengganggu  proses  belajar  selanjutnya  apabila  tidak  diperbaiki  sejak  awal. Konsep  lama  yang  sudah  sesuai  dengan  konsep  ilmiah  sangat  penting  artinya  bagi penanaman konsep-konsep baru yang akan dilakukan dalam pembelajaran inti.

  1. 3.       Kompetensi yang Dikembangkan dalam Pembelajaran Kontruktivis

Di  samping  kompetensi  disiplin (discipline-based  competencies), pembelajaran  konstruktivis  juga  mengembangkan  kompetensi  interpersonal (interpersonal  competencies) dan  kompetensi  intrapersonal (intrapersonal  competencies) dalam diri pembelajar. Kompetensi disiplin ilmu berkaitan dengan pemantapan konsep, prinsip, teori  dan  hukum  dalam  disiplin  ilmu  masing-masing.  Kompetensi  interpersonal mencakup  kemampuan  berkomuniksi,  berkolaborasi,  berperilaku  sopan  dan  baik, menangani konflik, bekerja sama, membantu orang lain, dan menjalin hubungan dengan orang  lain.  Kompetensi  intrapersonal  mencakup  apresiasi  terhadap  keanekaragaman,  melakukan  refleksi  diri,  disiplin,  beretos  kerja  tinggi,  membiasakan  diri  hidup  sehat, mengendalikan emosi, tekun, mandiri, dan mempunyai motivasi intrinsik. Keempat lingkaran  itu  saling  bersinggungan  bagian tepinya  sehingga manakala lingkaran  pembelajaran  menggelinding  ketiga  lingkaran  lainnya  akan  ikut menggelinding

Lingkaran  pembelajaran  yang  terintegrasi  dengan  tiga  kompetensi  itu  seiring dengan dimensi-dimensi konstruktivisme. Pada  saat mengkonstruksi  pengetahuan dalam konteks sosiokultural kompetensi interpersonal pembelajar akan berkembang secara alami.  Pada  saat  mengkonstruksi  pengetahuan  secara  aktif  (sebagai  aktor)  kompetensi intrapersonal pembelajar akan terfasilitasi secara optimal.

4.  Strategi Pembelajaran Kontruktivis

a.    Langsung (Tatap Muka)

Secara umum tatap muka terdiri dari tiga bagian, yaitu :

  • Pendahuluan : Memberikan  “orientasi”  dan  “penggalian  ide”  untuk  mengetahui  prakonsepsi pembelajar.
  • Inti:  Merupakan  bagian  terbesar  pembelajaran,  digunakan  untuk  menfasilitasi “restrukturisasi ide” mengarah ke  perbaikan  konsep,  pembelajar menilai apakah  ide-ide  itu  sudah  mendekati  konsep  ilmiah  yang  sesungguhnya.  Selanjutnya memberi  kesempatan  kepada  pembelajar  untuk  “mengaplikasikan  ide-ide”  yang baru  dipelajari  untuk  memecahkan  berbagai  masalah.  Pemantapan  pembelajar  atas ide-ide  itu  sebenamya  baru,  namun  akan  mantap  setelah  digunakan  untuk memecahkan masalah.
  • Penutup : Melakukan  “review  perubahan  ide”  untuk  membandingkan  ide  yang  telah dipelajari dengan ide awal yang muncul saat penggalian ide.

b.    Tidak Langsung (Non Tatap Muka)

Dalam  pembelajaran  non  tatap  muka  “restrukturisasi  ide”  dan  “aplikasi  ide”  dapat terus  difasilitasi;  bedanya  proses  pembelajaran  pembelajar,  tanpa  pengawasan.  Tugasnya  bisa  bersifat  terstruktur  (sesuai  dengan  perencanaan pembelajar),  dapat  juga  mandiri  (sesuai  dengan  minat  masing-masing  pembelajar).

5. Metode Pembelajaran Kontruktivis

Di dalam masing-masing tahap pembelajaran konstruktivisme di atas, tentu saja terdapat berbagai metode. Di bawah ini adalah beberapa metode yang sering dipakai :

  • Metode  “sindikat”  sangat  cocok  untuk  topik  yang  dapat  dipelajari  sendiri  oleh pembelajar.  Mereka  bekerja  dalam  kelompok,  masing-masing  anggota  mempelajari satu aspek  masalah  secara  mendalam  sebelum  bertemu  dengan anggota  lain  dalam sindikatnya, memecahkan masalah secara bersama-sama secara intensif
  • Pembelajaran  kelompok  kecil  biasanya  terdiri  dari  4-6  pembelajar;  mereka  saling mengemukakan  pendapatnya  tentang  suatu  masalah  sebelum  akhirnya  mengambil kesimpulan.  Beberapa  pembelajar  kurang  berani  berbicara  dalam  kelompok  seukuran itu.
  • Sebagai  jalan  keluarnya  pembelajar  perlu  sekali-sekali  membentuk  “ triad “,  yaitu kelompok  yang  hanya terdiri  dari  tiga  orang.  Dengan  kelompok  kecil  itu  mau tidak mau pembelajar akan berani berbicara.
  • “Praktikum” tidak selalu berlangsung di laboratorium dengan menggunakan alat-alat yang  canggih,  melainkan  bisa  juga  berlangsung  di  alam  sekitar  dan  masyarakat. Kegiatan praktikum hendaknya diarahkan untuk membekali pembelajar dengan :  keterampilan praktikum dasar      pengenalan alat-alat dan teknik pengukuran standar  keterampilan melakukan pengamatan.  intrepretasikan data,  penulisan laporan.

6. Media Pembelajaran Kontruktivis

Berbagai  bentuk  media  perlu  dimanfaatkan  untuk  mengakomodasi  perbedaan karakteristik pembelajar, yang lebih kuat dalam visual, auditif, atau kinestetik.

  • Modul: bahan  ajar  yang  baik  akan  menyediakan  petunjuk  bagi  pembelajar  tentang bagaimana  cara  belajar.  Isinya  memberitahukan  tentang  cara-cara  menggunakan bahan ajar itu secara tepat. Pasal-pasalnya antara lain memuat informasi tentang :  Bagaimana belajar, mempertahankan sikap positif  Konsep dan prinsip, memi sebelum menggunakan  Jadwal belajar, setiap hari dua jam untuk satu jam tatap muka di kelas Memanfaatkan fitur-fitur (features) yang ada dalam bahan ajar.
  • Media  Presentese  ( Power  Point/flash ), media  pembelajaran  berbasis  komputer  ini dapat  digunakan  secara  intensif  dalam  model  pembelajaran  yang  berdasarkan konstruktivisme.  Berbagai  peristiwa  penting  dapat  ditunjukkan  dalam  bentuk animasi;  konsep-konsep  yang  mempunyai  abstraksi  tinggi  dapat  dijembatani  secara optimal.  Soal-soal  yang  berkaitan  dengan  animasi  disertakan  dalam  program  ini sehingga  sifatnya  interaktif.  Pertama-tama  animasi  dibuat  oleh  pembelajar; selanjutnya  pembelajar  tertentu  dilibatkan  untuk  berpartisipasi.  Keuntungan  ganda akan diperoleh dimana pembelajar  terlibat secara aktif dan  pembelajar terbantu dalam menyiapkan media.
  • Overhead transparency. Jika  mendapatkan  kesulitan  dengan  komputer,  tampilan-tampilan program power point itu dapat dicetak pada kertas ukuran A4 atau langsung ke tranparency untuk digunakan dalam penayangan menggunakan overhead projector. Soffware  Lab.  Virtual . Saat  ini  di  internet  banyak  ditawarkan  program-program laboratorium  virtual yang  bersifat interaktif, beberapa  di antaranya dapat di download secara  gratis.  pembelajar  dapat  dengan  leluasa  melakukan  pengamatan-pengamatan secara  cermat,  menuju  pembentukan  konsep  secara  diskoveri.  Memori  lab.  virtual ada  yang  cukup  kecil  sehingga  dapat  direkam  dalam  floppy disc,  ini  sangat membantu pembelajar.Mailing list. Mailing  list adalah alat komunikasi canggih  berbasis  internet, yang dapat mengatasi  kendala  ruang  dan  waktu. Mailiing  list dapat  dibuat  dengan  mudah  oleh semua  orang  secara  gratis,  misalnya  dalam website http://www.yahoo.com.  Semua  materi belajar yang  telah direkam  dalam program power  point dapat  disebarluaskan  kepada seluruh  pembelajar  dengan  media mailing  list ini.  Sekali  suatu  informasi  dikirimkan, seluruh  anggota  dapat  menerima  dan  membacanya.  Materi  belajar berupa animasi, contoh-contoh  simulasi, tugas-tugas, temuan-temuan penting anggota, dan informasi lain  semua  dapat  disampaikan  melalui  media  ini.
  1. 7.         Evaluasi Pembelajaran Konstruktivis

Evaluasi  terhadap  pembelajaran  konstruktivis  meliputi  evaluasi  formatif  dan sumatif.  Evaluasi  formatif  menekankan  pada  proses,  dan  tujuannya  lebih  kepada perbaikan  mutu  pembelajaran;  sedangkan  evaluasi  sumatif  menekankan  pada  hasil. Untuk evaluasi formatif asesmen perlu dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan berikut ini: (a) diskusi kelas, (b) kegiatan kelompok kecil di kelas atau di lapangan tugas terstruktur, pekerjaan rumah, (c) kegiatan mandiri (proyek), (d) praktikum Evaluasi  sumatif  mengukur  pencapaian  pembelajar  setelah  menyelesaikan  suatu mata  pelajaran.  Aspeknya  mencakup  pengetahuan,  keterampilan,  dan  sikap; pengukurannya bisa dilakukan dengan tes tertulis maupun tes perbuatan. Evaluasi  terhadap  kegiatan  praktikum  sebenamya  tidak  semata-mata menekankan  pada  proses,  melainkan  juga  hasil,  laporan  praktikum  adalah  suatu  hasil. Asesmen  terhadap  laporan  praktikum  dapat  dilakukan  secara  komprehensif  mencakup hal-hal  berikut  ini:  (a)  kejelasan  isi,  (b)  kebenaran  teori,  (c)  presentasi  hasil,  dan  (d) penampakan visual keseluruhan.

Koreksi  terhadap  laporan  prakikum  dan  tugas  seringkali  menjadi  pekerjaan yang  sangat  berat  bagi  pembelajar.  Struktur  masing-masing  laporan  cukup  kompleks dan  perhitungannya  sangat  rumit.  Dengan  jumlah  pembelajar  sekitar  40  orang  tiap  kelas hampir  tidak  mungkin  bagi  pembelajar  memeriksa  secara  teliti.  Untuk  tugas  yang bersifat homogen, sama untuk semua pembelajar, berbagai altematif disarankan;

  • Cukup  dilakukan  koreksi  terhadap  satu  kelompok;  yang  lain  akan  belajar  dari kesalahan-kesalahan kelompok itu, yang sudah dikoreksi oleh pembelajar.
  • Melakukan  sampling  terhadap  laporan-laporan  praktikum  atau  PR  yang  masuk; misalnya satu tiap empat laporan atau PR.
  • Menggunakan peer dan self assessinent

Nilai  akhir  dari  hasil  belajar  pembelajar  adalah  gabungan  dari  berbagai  nilai  yang diperoleh. Komposisinya disepakati bersama pada awal pembelajaran.

2.6. Kritik terhadap Teori Piaget.

1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan  bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget.

2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.

3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa

mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.


 

BAB III

PENUTUP / KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

          Dari uraian di atas dapat disimpulkan  :

Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.

Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak , anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).

Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :

1. Struktur 2. Isi 3. Fungsi

Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik.

Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik, bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya dan di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Perbandingan kritik terhadap teori PIAGET dan teori lainnya, diantara lain :

No. Teori PIAGET Teori lainnya
1.

2.

3.periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)

mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak

terlalu meremehkan kemampuan anak – anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tuaMcGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget

Balillargeon dan De Vos (1991)

Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal

Tidak meremehkan kemampuan anak – anak kecil dan tidak menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua

 

Implementasi pembelajaran konstruktivisme piaget dalam pembelajaran.

Prosedur pembelajaran  berdasarkan  konstruktivisme,  memfasilitasi  pembelajar  membangun  sendiri konsep-konsep  baru  berdasarkan  konsep  lama yang  telah  dimiliki.  Pembangunan konsep  baru  itu  tidak  terjadi  di  ruang  hampa  melainkan  dalam  konteks sosial,  dimana mereka dapat berinteraksi dengan orang lain untuk merestrukturisasi ide-idenya. Pembelajaran konstruktivisme mengembangkan komptensi disiplin

Di samping kompetensi disiplin (discipline-based competencies), pembelajaran konstruktivis  juga  mengembangkan  kompetensi  interpersonal (interpersonal  competencies) dan  kompetensi  intrapersonal (intrapersonal  competencies) dalam diri pembelajar. Kompetensi disiplin ilmu berkaitan dengan pemantapan konsep, prinsip, teori  dan  hukum  dalam  disiplin  ilmu  masing-masing.  Kompetensi  interpersonal mencakup  kemampuan  berkomuniksi,  berkolaborasi,  berperilaku  sopan  dan  baik, menangani konflik, bekerja sama, membantu orang lain, dan menjalin hubungan dengan orang  lain.  Kompetensi  intrapersonal  mencakup  apresiasi  terhadap  keanekaragaman,  melakukan  refleksi  diri,  disiplin,  beretos  kerja  tinggi,  membiasakan  diri  hidup  sehat, mengendalikan emosi, tekun, mandiri, dan mempunyai motivasi intrinsik.


 

DAFTAR PUSTAKA

Anita Woolfolk, Educational Psychology, Active Learning Edition, Bagian Pertama, Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar : 2009) hlm. 49-50 Santrock, op. cit., hlm 38-44 Jamaris. Op. Cit., hlm. 37

Anita Woolfolk. Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hlm. 51

Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan, CV Rajawali Universitas Terbuka, 1991

Wikipedia, VALMBAND, Latar Belakang Jean Piaget, arthachristianti.wordpress.com, Pembelajaran Guru, Berbagai Bahan Terkait Model-Model Pembelajaran

By Gina F & Balya Hulaimy, Ibid., hlm. 28

Suarno,2011. Psikologi kognitif. Tersedia pada http ; Suarno.wordpress.com/…/Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran (diakses tanggal 27 April 2011)

Tugino Thok,2011. Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Tersedia pada http ; tugino230171.wordpress.com/…/pendekatan-konstruktivisme-dalam-pembelajaran (diakses tanggal 27 April 2011)

bagi yang berminat tentang PTK dan belum paham mengenai pembuatannya bisa klik disini PANDUAN PTK

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

                                                     (RPP)

                                                                 

Mata Pelajaran                        : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Satuan Pendidikan                 : SD N 1 Negara

Kelas / Semester                     : VI / 2 (dua)

Alokasi Waktu                       : 2 x 35 menit

 

  1. A.    Standar Kompetensi
  • Memahami peranan bangsa Indonesia diera globalisasi.
  1. B.     Kompetensi Dasar
  • Menjalankan peranan Indonesia pada eraglobalisasi dan dampak positifnya serta negatifnya terhadap kehidupan bangsa Indonesia. untuk lebih lengkap klik disini.contoh IPS kls 6

 

KONSEP DASAR DAN PROSEDUR

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

————————————————————

1. Pendahuluan

Dewasa ini, kualitas pendidikan telah menjadi salah satu fokus perhatian, setelah sekian lama kita berkutat dengan upaya-upaya peningkatan kuantitas, seperti wajib belajar, pemerataan pendidikan secara massal, dan sekarang sudah saatnya (bahkan sudah terlambat), harus mulai memberikan penekanan pada upaya-upaya peningkatan kualitas.  Banyak upaya yang bisa dilakukan kearah itu, seperti peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan kualitas professional kepala sekolah dan  guru, penciptaan iklim yang inovatif di sekolah,  penciptaan iklim yang inovatif dalam pembelajaran, dan salah satunya upaya yang tidak boleh dilupakan adalah pemanfaatan hasil-hasil penelitian untuk pengambilan kebijakan pendidikan, serta yang lebih mikro adalah untuk peningkatan profesionalisme guru untuk perbaikan perbaikan pembelajaran. Dalam kaitan dengan itu, usaha-usaha yang acapkali dilakukan oleh praktisi pendidikan adalah mendapatkan informasi atau explanasi dari suatu penelitian tindakan (action research)

Penelitian tindakan merupakan  salah satu metode penelitian yang menarik perhatian ilmuwan dan atau praktisi ilmu pengetahuan pendidikan, social dan humaniora. Pro dan kontra mengenai kelayakan penelitian ini acapkali terjadi, apabila diproliferasi antara istilah penelitian (research) dengan tindakan. Proliferasi tersebut pada hakikatnya berhubungan dengan epistimologi yang dianut. Seperti aliran empirisme, positivism logis, dan strukturalisme akan menolak hal tersebut, sedangkan aliran pragmatisme, dan materialism dialektis menerimanya karena bagi penganut aliran ini kelayakan tujuan penelitian ini jelas dapat dilihat.

Perlu disadari bahwa,  hasil-hasil penelitian tidak begitu saja dapat secara langsung mempengaruhi praktik pendidikan di sekolah atau praktek pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, penelitian-penelitian  tersebut dilakukan oleh peneliti dari luar seperti dosen maupun peneliti dari lembaga penelitian lainnya. Sekolah hanya digunakan sebagai kancah (seting) penelitian, dimana permasalahan penelitian ditentukan oleh peneliti, bukan masalah-masalah riil yang terjadi di kancah tersebut. Akibatnya, sekolah (murid dan guru) hanya semata-mata berperan sebagai instrumental, dalam arti hanya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan peneliti.

Kedua, dengan masalah yang dibawa dari luar berarti guru tidak terlibat secara langsung dalam menentukan masalah tersebut. Akibatnya, masalah-masalah itu tidak dihayati oleh guru sehingga pembentukan pengetahuan (knowledge construction) tidak terjadi. Dengan demikian, tidak ada masukan yang dapat dipakai guru untuk meningkatkan pembelajarannya.

Ketiga, penyebarluasan hasil-hasil penelitian memakan waktu lama karena prosedur diseminasi yang harus dilalui sangat panjang, yang meliputi berbagai kegiatan seperti penerjemahan hasil-hasil penelitian itu dalam suatu program, juga termasuk prosedur birokratik yang melelahkan.

Mengantisipasi hal tersebut di atas, orientasi baru dalam cara memandang proses pendidikan dan pembelajaran, yaitu yang mengedepankan tanggungjawab semua pihak dalam meningkatkan kualitas praktik pendidikan dan  pembelajaran, telah menempatkan sekolah tidak semata-mata sebagai objek, melainkan sebagai subjek pelaku penelitian. Orientasi ini memunculkan penelitian tindakan di sekolah yang disebut dengan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dan penelitian tindakan di kelas yang disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian sejenis ini terklasifikasi sebagai penelitian tindakan (action research) dimana peneliti berperan sebagai pelaku langsung penelitian itu, sehingga peneliti (guru, pengawas) dapat membangun sendiri pengetahuannya melalui praktik pendidikan di sekolah atau praktik pembelajarannya, demi peningkatan efektifitas pengelolaan sekolah dan atau pembelajaran dan bahkan untuk perbaikan hasilnya, jadi unsur formatif dan diagnostik dapat terjadi.

Sejak berkembang kembali di tahun 1960an (dimana penelitian tindakan pertama kali diperkenalkan di Inggris pada tahun 1920), penelitian tindakan (action research) kini menjadi salah satu jenis penelitian yang banyak dilakukan, terutama dalam penelitian-penelitian sosial dan pendidikan. Kemmis (1983) mengatakan bahwa penelitian tindakan merupakan suatu ujicoba ide-ide sehingga dapat bermanfaat bagi lingkungan situasi. Stringer (1999) maupun Webb (dalam Zuber-Skerrit, 1996) menyebut penelitian tindakan sebagai suatu penelitian dalam kehidupan profesional dan publik. Hopkins (1993) maupun Kemmis dan McTaggart ( 1988) lebih menekankan pada penggunaan penelitian tindakan sebagai upaya pengentasan masalah-masalah riil, untuk meningkatkan efektifitas. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa penelitian tindakan sebagai suatu upaya peningkatan profesionalisme dan efektifitas kegiatan publik melalui pemecahan masalah-masalah riil.

Penelitian tindakan sekolah (PTS) dan penelitian tindakan kelas (PTK) adalah salah satu bentuk penelitian tindakan, yang bisa bersifat diagnostic, partisipatif, dan empirik, yang mengikuti ciri-ciri penelitian tindakan, dan lebih diarahkan pada praktek pemecahan masalah yang terjadi dalam konteks praktik persekolahan dan atau pembelajaran.

Sesuai dengan uraian di atas, terkait dengan pelatihan ini (khusus untuk pengawas) penulisan makalah ini bertujuan agar peserta: (1)  memahami konsep-konsep dasar PTS. Pembahasan konseptual ini dimaksudkan sebagai pemicu pengembangan wawasan peserta tentang PTS, (2) memahami  prosedur pelaksanaan PTS, (3) melakukan PTS untuk meningkatkan kualitas praktik pendidikan dan pembelajaran….PTS Undiksha

BUKU BAHASA INDONESIA SD KELAS 2

Posted: Maret 30, 2011 in buku
Tag:,

Bagi yang berminat silahkan klik disini

kelas02_aku-bangga-bindo_ismoyo

contoh proposal PTK.

Posted: Maret 26, 2011 in Artikel
Tag:, , ,

Judul :

Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Tipe GI dengan Media Realita Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa kelas IV

SD N 1Yehembang Kangin Tahun Pelajaran 2009/2010

1.1 Latar Belakang Masalah.

Sistem pembelajaran menurut PERMEN No 23 Tahun 2006 terbagi menjadi dua yaitu pembelajaran di kelas rendah, kelas 1 sampai 3 dan pembelajaran di kelas tinggi untuk kelas 4 sampai 6. Pembelajaran di kelas rendah menggunakan sistem pembelajaran tematik dan di kelas tinggi disesuaikan dengan karakteristik individu per mata pelajaran, seperti Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, IPS, PPKN, Olahraga, Agama dan SBK. Standar isi pendidikan, dibuat oleh pemerintah sebagai acuan tingkat nasional untuk dicapai masing-masing satuan pendidik serta dikembangkan oleh satuan-satuan pendidikan yang ada di daerah dengan cara menganalisis sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada disetiap satuan pendidikan dengan materi ajar yang akan diberikan berdasarkan analisis standar isi dan standar kompetensi (Dikdasmen,2008).

Kondisi PBM di tingkat sekolah masih diwarnai oleh penekanan pada aspek pengetahuan dan sangat sedikit yang mengacu pada pelibatan siswa dalam proses pembelajaran itu sendiri yang mana guru sebagai subjek dan anak didik sebagai objek didik. Sementara itu, Al Mucthar (1991) dalam penelitiannya menemukan, proses pembelajaran IPA khususnya kelas IV sekolah dasar kebanyakan masih menggunakan metode konvesional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal (3DCH) sehingga kegiatan pembelajaran menjadi menoton dan kurang menarik perhatian siswa.. untuk lebih jelas bisa klik disini..proposal